Dehidrasi pada anak terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak daripada yang masuk. Pada anak, penyebab tersering adalah muntah, diare, atau keduanya. Anak juga bisa kurang minum karena sariawan atau radang tenggorokan, cuaca panas, atau bermain sangat aktif. Kasus ringan sering bisa ditangani di rumah dengan larutan rehidrasi oral. Dehidrasi berat butuh perawatan medis.

Tanda dehidrasi pada anak
Menurut Nemours KidsHealth, tanda yang sering muncul meliputi mulut kering atau lengket, sedikit atau tidak ada air mata saat menangis, mata tampak cekung, ubun-ubun bayi tampak cekung, urine lebih gelap, buang air kecil lebih jarang atau popok basah lebih sedikit, anak rewel, mengantuk atau pusing, dan denyut jantung cepat. Satu tanda saja belum tentu dehidrasi berat, tetapi beberapa tanda bersamaan perlu perhatian segera.
Diare dan muntah adalah pintu masuk yang paling sering. Cara mengenali dan merawat episode itu ada di diare pada anak dan anak muntah. Demam juga menambah kehilangan cairan; panduannya ada di demam pada anak. Bila anak menolak minum karena sariawan, baca sariawan pada anak.
Perawatan dehidrasi ringan di rumah
Dehidrasi ringan diobati dengan rehidrasi lewat mulut. Larutan rehidrasi oral, yang di Indonesia sering disebut oralit, berisi air, gula, dan garam dalam takaran yang membantu mengganti cairan. Produk setara bisa dibeli di apotek tanpa resep. Jika oralit tidak tersedia, tanyakan dokter cairan apa yang masih aman.
Bila dokter setuju perawatan di rumah, berikan tegukan kecil sesering mungkin. Untuk bayi, KidsHealth menyebut sekitar 1 sampai 2 sendok teh (5 sampai 10 mililiter) setiap beberapa menit. Untuk anak yang lebih besar, sekitar 1 sampai 2 sendok makan (15 sampai 30 mililiter) setiap beberapa menit. Bayi boleh terus menyusu atau minum susu formula selama tidak muntah berulang. Anak yang lebih besar boleh es loli elektrolit. Makanan biasa boleh dilanjutkan kecuali dokter menyarankan lain. Nafsu makan boleh turun dulu; yang utama anak tetap minum.

Jangan mengganti oralit dengan air putih saja pada bayi yang dehidrasi, karena air putih tidak berisi garam dan gula yang dibutuhkan. Jangan beri minuman olahraga, soda, atau jus pekat. Gula yang terlalu tinggi bisa memperburuk sebagian gejala. Jangan beri obat diare atau muntah kecuali dokter yang menganjurkan. Saat anak membaik dan mau makan, kurangi oralit dan kembalikan minuman serta makanan biasa. Sakit perut yang menyertai perlu dipantau; lihat sakit perut pada anak.
Kapan dehidrasi pada anak harus ke dokter?
- Anak menolak semua minuman lebih dari beberapa jam.
- Bayi di bawah 1 tahun hanya minum oralit, tanpa ASI atau formula, selama 24 jam.
- Muntah lebih dari beberapa kali dalam 24 jam.
- Muntahan hijau terang, merah, atau cokelat.
- Belum mau makan sama sekali dalam tiga sampai empat hari.
- Mulut kering, jarang pipis, air mata sedikit, atau ubun-ubun cekung.
- Sangat rewel, lesu, atau tidak membaik.
Bawa ke IGD jika anak sangat mengantuk atau tidak merespons saat diajak bicara. Dehidrasi berat tidak menunggu sampai besok pagi. Informasi di halaman ini tidak menggantikan pemeriksaan langsung.
Cara mencegah dehidrasi
Beri cairan tambahan atau oralit setiap anak sakit. Saat muntah, jumlah kecil yang sering lebih berhasil daripada gelas besar. Saat cuaca panas, ingatkan minum berkala. Anak yang olahraga atau sangat aktif sebaiknya minum sebelum kegiatan, lalu istirahat minum kira-kira setiap 20 menit. Ajarkan kebiasaan minum ini sejak dini, sejalan dengan pola makan di gizi seimbang anak.
Simpan oralit di rumah sebelum musim diare, dan catat berapa kali popok basah atau buang air kecil dalam sehari supaya Anda punya pembanding saat anak sakit. Rujukan edukasi: KidsHealth tentang dehidrasi.
Catatan harian yang membantu dokter
Tulis jam muntah atau diare, perkiraan jumlah cairan yang masuk, dan berapa kali popok basah. Untuk anak yang sudah ke toilet, catat warna urine: kuning pekat perlu perhatian lebih daripada kuning muda. Timbang bila Anda punya timbangan bayi, karena penurunan berat yang cepat adalah informasi penting bagi dokter. Jangan menunda cairan hanya karena anak “masih main”; anak aktif tetap bisa kekurangan cairan saat panas.
Jika anak menolak oralit yang terlalu dingin, coba suhu ruang supaya tidak memicu muntah lagi. Cuaca panas dan permainan di luar tetap perlu jeda minum, meski anak tidak diare. Satu botol minum kecil di tas bermain sudah mengurangi risiko. Siapkan sendok teh dan gelas ukur kecil di dapur supaya takaran tegukan tidak ditebak. Ganti oralit yang sudah dibuka sesuai petunjuk kemasan, dan jangan mencampur sendiri garam-gula tanpa resep resmi karena takaran yang salah berbahaya. Jika anak menolak rasa oralit, tanyakan apotek apakah ada varian rasa yang sesuai usia. Tetap tawarkan sedikit-sedikit, bukan memaksa satu gelas sekaligus yang lalu dimuntahkan semua. Pengasuh dan kakek-nenek perlu tahu aturan yang sama agar perawatan tidak berubah-ubah sepanjang hari.
Kesimpulan
Dehidrasi pada anak paling sering menyusul muntah dan diare. Dehidrasi ringan ditangani dengan tegukan oralit sesuai arahan dokter, bukan jus atau minuman olahraga. Air mata hilang, ubun-ubun cekung, atau anak yang tidak merespons adalah alasan untuk segera mencari pertolongan medis.

